Bangun lebih awal, membuat tubuh lebih siap beraktifitas. Biasakan bangun pagi setiap hari, dan Anda pun akan lebih bersemangat sepanjang hari. Untuk membantu Anda lebih mudah meninggalkan kehangatan selimut, berikut beberapa tips untuk Anda:
1. Set alarm tepat waktu
Biasakan menyetel alarm tepat di waktu Anda seharusnya bangun. Menyetel 15 menit di awal, justru akan membuat Anda lebih sering menekan tombol "tunda", dan Anda akan semakin malas beranjak dari tempat tidur. Waktu istiahat pun tidak berkualitas, sebab Anda terganggu oleh bunyi alarm itu sendiri.
2. Warna cerah
Gunakan warna-warna cerah seperti merah, hijau muda, orange atau kuning pada perlengkapan tidur apapun yang berada dekat area kasur. Pastikan benda-benda itulah yang akan terlihat saat membuka mata untuk pertama kalinya. Sebab ketika mata Anda terbuka dan melihat sesuatu yang berwarna, adrenalin akan terpicu sehingga menyebabkan energi Anda terbit.
3. Musik keras
Memutar musik keras di pagi hari, juga bisa membangun mood.
4. Pijatan di wajah
Ketika bangun tidur, tetaplah berbaring dan pijatlah area di sekitar wajah. Aktivitas ini akan meningkatkan sirkulasi darah dan mempercepat bangun tidur. Mulailah memijat dari daerah kening, pipi, pukul-pukul dengan telapak tangan, kemudian daerah dagu dan akhirnya seluruh bagian wajah. Selain meningkatkan sirkulasi darah, gerakan memijat bisa membuat Anda berpijar dengan cepat.
5. Rancang hari Anda
Ketika Anda benar-benar terbangun, tutup mata sejenak dan gambarkan apa yang akan Anda kerjakan pada hari itu dengan penuh semangat dan positif. Berimajinasi tentang aktivitas selanjutnya akan merangsang otak untuk berpikir dan Anda akan berusaha mewujudkannya ketika benar-benar beraktivitas.
6. Sinar matahari
Kamar tidur yang paling baik adalah kamar berventilasi sehingga memungkinkan cahaya matahari masuk. Sinar matahari yang menyentuh kulit akan membuat Anda lebih mudah terbangun. Bacalah koran di dekat jendela atau keluarlah untuk sekedar minum kopi beberapa menit. Cahaya pagi yang masuk ke dalam tubuh bagaikan jam biologis yang akan menghentikan sekresi melatonin, hormon yang membuat seseorang mengantuk dan meningkatkan hormon serotonin yang memicu mood seseorang.
7. Minum air putih
Meminum segelas air putih segera setelah terbangun adalah cara yang baik untuk mengganti cairan tubuh yang berkurang semalamnya. Segala sesuatu yang terjadi di dalam tubuh memerlukan air. Tanpa air yang cukup, sistem metabolisme dalam tubuh akan bekerja lebih keras yang dapat menyebabkan melemahnya fungsi organ.
8. Seks
Melakukan seks di pagi hari contohnya bisa meningkatkan mood Anda karena beberapa hormon akan keluar, seperti hormon peningkat stamina (testosteron), energi (dopamin) dan ketenangan (oxytocin). Namun jika tidak mungkin untuk dilakukan, Anda bisa melakukan gerakan-gerakan sederhana.
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Desember 2009
Senin, 25 Mei 2009
KARIES DAN DIET
Karies merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang disebabkan oleh beberapa faktor, saya rasa sudah perbah saya bahas dan dipostingan sebelumnya anda akan lebih jelas mengenai karies :). Diet salah satu trend anak muda sekarang terutama bagi para remaja putri yang ingin tampil lebih PD dan menjaga kelangsingan tubuhnya. Namun apa hubungan antara karies dan diet ya? disini saya akan coba menjelaskan sedikit.
Pada dasarnya hubungan antara karies dan diet sangat simpel dan mudah untuk dimengerti, beberapa orang yang menjalani diet sehat dan berprilaku hidup sehat akan mengalami penurunan masalah gigi. mengapa demikian, hal ini dikarenakan konsumsi gula pada tubuh dikurangi dan lebih banyak mengkonsumsi bahan atau makanan dengan pemanis alami seperti buah-buahan yang sangat baik bagi tubuh maupun bagi kesehatan gigi dan mulut. Apabila kita mengkonsumsi buah-buahan seperti apel, apel secara tidak langsung akan membantu membersihkan gigi secara alami bisa diibaratkan kita menggosok gigi, nah sangat dianjurkan untuk menu penutup menggunakan apel atau ganti snak anda dengan buah - buahan. Selain gigi dan mulut kita sehat maka badan kita tetap langsing :).
Hubungan antara diet dan karies erat sekali kaitannya dengan jumlah konsumsi pemanis atau gula yang dikonsumsi oleh tubuh kita, sebenarnya Tuhan telah menciptakan gigi dan mulut kita sebagai gerbang dan peringatan yang sangat luar biasa. bagai mana tidak, apabila makanan yang kita konsumsi tidak baik bagi tubuh atau merugikan maka gelaja yang nampak akan terlihat pada daerah disekitar rongga mulut seperti : Amandel, sariawan, bibir pecah - pecah, karies, sakit tenggorokan dan lain - lain. maka kenali makanan yang anda konsumsi. Sangat dianjurkan untuk kembali ke pola hidup sederhana dan kembali ke alam. Saran saya mulai sekarang tinggalkan makanan dengan bahan kimia dan kembalilah Natural.
Sekedar tambahan:
Ingat pengolahan masakan dengan MSG mengidikasikan pembuat makanan kurang cakap mengolah bahan masakan dengan paduan bumbu - bumbu yang tersedia. apabila seorang koki atau tukang masak bisa mengolah bahan makanan dan bumbunya tidak perlu ditambah bahan penyedap.
Pada dasarnya hubungan antara karies dan diet sangat simpel dan mudah untuk dimengerti, beberapa orang yang menjalani diet sehat dan berprilaku hidup sehat akan mengalami penurunan masalah gigi. mengapa demikian, hal ini dikarenakan konsumsi gula pada tubuh dikurangi dan lebih banyak mengkonsumsi bahan atau makanan dengan pemanis alami seperti buah-buahan yang sangat baik bagi tubuh maupun bagi kesehatan gigi dan mulut. Apabila kita mengkonsumsi buah-buahan seperti apel, apel secara tidak langsung akan membantu membersihkan gigi secara alami bisa diibaratkan kita menggosok gigi, nah sangat dianjurkan untuk menu penutup menggunakan apel atau ganti snak anda dengan buah - buahan. Selain gigi dan mulut kita sehat maka badan kita tetap langsing :).
Hubungan antara diet dan karies erat sekali kaitannya dengan jumlah konsumsi pemanis atau gula yang dikonsumsi oleh tubuh kita, sebenarnya Tuhan telah menciptakan gigi dan mulut kita sebagai gerbang dan peringatan yang sangat luar biasa. bagai mana tidak, apabila makanan yang kita konsumsi tidak baik bagi tubuh atau merugikan maka gelaja yang nampak akan terlihat pada daerah disekitar rongga mulut seperti : Amandel, sariawan, bibir pecah - pecah, karies, sakit tenggorokan dan lain - lain. maka kenali makanan yang anda konsumsi. Sangat dianjurkan untuk kembali ke pola hidup sederhana dan kembali ke alam. Saran saya mulai sekarang tinggalkan makanan dengan bahan kimia dan kembalilah Natural.
Sekedar tambahan:
Ingat pengolahan masakan dengan MSG mengidikasikan pembuat makanan kurang cakap mengolah bahan masakan dengan paduan bumbu - bumbu yang tersedia. apabila seorang koki atau tukang masak bisa mengolah bahan makanan dan bumbunya tidak perlu ditambah bahan penyedap.
Kamis, 14 Mei 2009
10 Langkah Untuk Mengendalikan Berat Badan
Masalah berat badan merupakan masalah yang sangat pelik dan sering dipertanyakan oleh pasien yang saat ini mengalami kegemukan.
1.Saya Harus Bisa
Tanamkan tiga kata tersebut dalam diri Anda sebagai langkah pertama. Walau banyak godaan dating menghalang, asal Anda selalu ingat bahwa Anda harus bisa menurunkan berat badan maka Anda telah berada di jalur yang tepat.
2.Sarapan Merupakan Hal Yang Wajib Dilakukan
Jangan pernah meninggalkan rumah dipagi hari tanpa menyentuh sesuatu untuk dimakan, sebab makanan ini akan memberikan Anda cukup tenaga untuk beraktifitas seharian . Tidak perlu sarapan makanan yang berat – berat, cukup pisang, yogurt, sereal, roti dan makanan lain.
3.Sediakan Waktu Sejenak Untuk Membaca Kandungan Gizi Pada Kemasan Makanan
Yang perlu diperhatikan disini adalah kalori, sebab zat inilah yang sangat berperan dalam menambah berat badan Anda bila dikonsumsi secara berlebihan.
4.Jangan Melakukan Diet
Untuk jangka pendek diet memang akan menurunkan berat badan Anda, namun bila diet Anda hentikan maka berat badan Anda akan bertambah kembali.
5.Selalu MAkan Secara Teratur
Tubuh secara unik akan menurunkan metabolisme bila sedang lapar, hal ini tentu tidak bagus untuk proses penurunan berat badan. Untuk menghindari hal tersebut maka buatlah pola makan harian yang bisa dan rutin Anda lakukan setiap hari.
6.Perbanyak Konsumsi Serat
Serat sangat penting untuk menjaga agar tubuh tetap sehat. Serat yang kita makan sehari – hari berfungsi untuk menurunkan kolesterol dan memperlancar pengosongan saluran pencernaan.
7.Makanan Sehat Selalu Menjadi Pilihan Utama
Pilihlah makanan yang sedikit mengandung lemak jenuh. Perbanyak mengkonsumsi buah – buahan dan sayur – sayuran.
8.Olah Raga
Sesuaikan olah raga yang Anda pilih dengan kondisi tubuh Anda. Salah satu olah raga sehat, murah dan bisa dilakukan oleh semua orang adalah jalan kaki.
9.Buang Kebiasaan Ngemil di Malam Hari
Ngemil di malam hari akan menghancurkan upaya Anda menurunkan berat badan, sebab kalori yang Anda makan setelah makan malam akan tertimbun di dalam tubuh.
10.Perbanyak Konsumsi Protein
Memakan makanan yang mengandung protein dalam jumlah banyak akan membuat perut Anda kenyang dalam beberapa jam sehingga mengurangi kenutuhan Anda akan makanan yang mengandung kalori tinggi.
1.Saya Harus Bisa
Tanamkan tiga kata tersebut dalam diri Anda sebagai langkah pertama. Walau banyak godaan dating menghalang, asal Anda selalu ingat bahwa Anda harus bisa menurunkan berat badan maka Anda telah berada di jalur yang tepat.
2.Sarapan Merupakan Hal Yang Wajib Dilakukan
Jangan pernah meninggalkan rumah dipagi hari tanpa menyentuh sesuatu untuk dimakan, sebab makanan ini akan memberikan Anda cukup tenaga untuk beraktifitas seharian . Tidak perlu sarapan makanan yang berat – berat, cukup pisang, yogurt, sereal, roti dan makanan lain.
3.Sediakan Waktu Sejenak Untuk Membaca Kandungan Gizi Pada Kemasan Makanan
Yang perlu diperhatikan disini adalah kalori, sebab zat inilah yang sangat berperan dalam menambah berat badan Anda bila dikonsumsi secara berlebihan.
4.Jangan Melakukan Diet
Untuk jangka pendek diet memang akan menurunkan berat badan Anda, namun bila diet Anda hentikan maka berat badan Anda akan bertambah kembali.
5.Selalu MAkan Secara Teratur
Tubuh secara unik akan menurunkan metabolisme bila sedang lapar, hal ini tentu tidak bagus untuk proses penurunan berat badan. Untuk menghindari hal tersebut maka buatlah pola makan harian yang bisa dan rutin Anda lakukan setiap hari.
6.Perbanyak Konsumsi Serat
Serat sangat penting untuk menjaga agar tubuh tetap sehat. Serat yang kita makan sehari – hari berfungsi untuk menurunkan kolesterol dan memperlancar pengosongan saluran pencernaan.
7.Makanan Sehat Selalu Menjadi Pilihan Utama
Pilihlah makanan yang sedikit mengandung lemak jenuh. Perbanyak mengkonsumsi buah – buahan dan sayur – sayuran.
8.Olah Raga
Sesuaikan olah raga yang Anda pilih dengan kondisi tubuh Anda. Salah satu olah raga sehat, murah dan bisa dilakukan oleh semua orang adalah jalan kaki.
9.Buang Kebiasaan Ngemil di Malam Hari
Ngemil di malam hari akan menghancurkan upaya Anda menurunkan berat badan, sebab kalori yang Anda makan setelah makan malam akan tertimbun di dalam tubuh.
10.Perbanyak Konsumsi Protein
Memakan makanan yang mengandung protein dalam jumlah banyak akan membuat perut Anda kenyang dalam beberapa jam sehingga mengurangi kenutuhan Anda akan makanan yang mengandung kalori tinggi.
Selasa, 12 Mei 2009
KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN
A.Definisi Kepemimpinan
1.Kepemimpinan adalah sebuah focus dari proses – proses kelompok ( Cooley, 1902 )
2.Kepemimpinan adalah suatu bakat kepribadian juga dianggap menarik ( Bingham, 1927 )
3.Kepemimpinan merupakan bentuk ketaatan ( Alport, 1942 )
4.Kepemimpinan adalah suatu tumbuhan / perilaku ( Fiedler, 1967 )
5.pemimpin adalah alat untuk pencapaian ( Catell, 1951 )
B.Karakteristik Kepemimpinan
Hellriegel dan Slocum ( 1993 ) menekankan keterampilan kepemimpinan inti sebagai berikut :
1.Pemberdayan
Melalui pemberdayaan, pemimpin memberikan orang lain rasa pencapaian , kepemilikan dan harga diri. Satu cara pemimpin perawat dapat memberdayakan staf adalah mendiskusikan dengan mereka ide – ide tentang memberikan perawatan klien.
2.Intuisi
Intuisi meliputi memiliki rasa terhadap lingkungan dan kebutuhan serta keinginan yang dimiliki oleh orang lain.
Pemimpin keperawatan yang efektif meningkatkan intuisi mereka agar sesuai dengan kebutuhan klien dan staf.
3.Pemahaman Diri
Mencakup suatu kemampuan untuk menyadari kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Membangun kekuatan diri dan mengoreksi / memperbaiki kekurangan penting dilakukan agar kepemimpinan efektif.
4.Visi
Kepemimpinan visioner tidak berarti secara konsisten membayangkan tujuan baru dan orisinil.
Visi dapat semata – mata menyatukan caring dan efisiensi dalam memenuhi kebutuhan pegawai dan klien
5.Kongruensi Nilai
Adalah kemampuan untuk memahami dan menerima misi serta tujuan organisasi dan nilai pegawai serta untuk mendamaikannya.
Pemimpin yang efektif selalu menunjukan :
a.Pencapaian dan ambisi
b.Kemampuan untuk belajar dari kesalahan
c.Dedikasi tinggi terhadap pekerjaan
d.Analisis dan keterampilan memecahkan masalah yang baik
e.Tingkat keterampilan manusia yang tinggi
f.Inovasi tingkat tinggi
C.Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan didefinisikan sebagai kombinasi yang berbeda dari perilaku tugas dan hubungan yang digunakan untuk mempengaruhi orang lain untuk menyelesaikan tujuan. ( Huber, 2000 )
Beberapa gaya kepemimpinan antara lain :
1.Kepemimpinan Kharismatik
Dicirikan dengan suatu hubungan emosional antara pemimpin dan anggota kelompok yang pemimpinnya “ menginspirasi orang lain dengan mendapatkan komitmen emosional daripengikut dan dengan membangkitkan rasa setia dan antusiasme yang kuat “ . ( Marriner – Torney, 2000 )
2.Kepemimpinan Otoriter ( Direktif / Otokratif )
Pemimpin membuat keputusan untuk kelompok sehingga kelompok tidak mampu membuat keputusannya sendiri. Pemimpin menentukan kebijakan, memberikan perintah dan arahan kepada anggota kelompoknya.
3.Kepemimpinan Demokratis ( Partisipatif )
Pemimpin bertindak sebagai katalisator / fasilitator secara aktif memandu kelompok kearah pencapaian tujuan kelompok. Kepemimpinan demokratis dilandaskan pada prinsip sebagai berikut ( Tappen, 2001 ) :
a.Setiap anggota kelompok harus berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
b.Kebebasan keyakinan dan tindakan diperbolehkan dalam batasan yang masuk akal yang ditetapkan oleh masyarakat dan kelompok.
c.Tiap individu bertanggungjawab terhadap diri mereka sendiri dan kesejahteraan kelompok.
d.Harus ada perhatian dan pertimbangan untuk setiap anggota kelompok sebagai indibidu yang unik.
4.Kepemimpinan Laissez – Faire
Digambarkan sebagai pemimpin yang tidak aktif, pasif yang sedikit memberikan perintah, pertanyaan, anjuran / kritikan ( Tappen, 2001 ). Anggota kelompok dapat bertindak mandiri dan menderita akibat kurangnya kerja sama / koordinasi.
5.Kepemimpinan Situasional
Tingkat pengarahan dan dukungan bervariasi, bergantung pada tingkat kematangan pegawai / kelompok. Pemimpin menerapkan satu dari 4 gaya ( Hellriegel, Jackson dan Slocun )
a.Directive
Gaya kepemimpinannya dicirikan dengan pemberian intruksi yang jelas dan arahan spesifik untuk pegawai yang tidak matang.
b.Coaching
Gaya kepemimpinannya dicirikan dengan pengembangan komunikasi dua arah dan membantu pekerja yang menuju kematangan, membangun rasa percaya diri dan motivasi.
c.Supporting
Gaya kepemimpinannya dicirikan dengan komunikasi aktif dua arah dan mndukung upaya pekerja yang matang untuk menggunakan bakat mereka.
d.Delegating
Gaya kepemimpinan tanpa intervensi ( hands off ) ketika pegawai yang sudah sangat matang diberikan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana dan membuat keputusan.
6.Kepemimpinan Transaksional
Menunjukan manajer tradisional yang berfokus pada tugas dari hari ke hari dalam mencapai tujuan organisasi. Pemimpinnya memahami dan memenuhi kebutuhan kelompok.
7.Kepemimpinan Transformasional
Mempertimbangkan kembali karakteristik manajer – pemimpin, menekankan kembali visi yang dibagi manajer pemimpin dengan kelompok dan menekankan pentingnya mempersiapkan orang untuk berubah ( Tappen, 2001 ) .
Ciri – cirri kepemimpinan transformasional :
a. Kharisma
Pemimpin kharismatik sangat dihargai dan dipandang dengan penuh rasa hormat, dedikasi dan kekaguman.
b. Motivasi Inspirasional
Pemimpin bernagi visi dengan staf yang menarik emosi dan cita – cita mereka.
c. Stimulasi Intelektual
Pemimpin menstimulasi pengikut untuk mempertanyakan status quo untuk mempertanyakan secara kritis mengenai apa yang mereka lakukan dan mengapa.
d. Contingent Reward
Pemimpin menyadari tujuan yang disepakati bersama dan memberikan penghargaan pada pencapaian pegawai.
6 faktor dalam kepemimpinan transformasional :
1) Menguasai perubahan
2) Berpikir system
3) Visi bersama
4) Perbaikan kualitas continue
5) Kemampuan untuk mendefinisikan
6) Komitmen untukmelayani public
8. Caring Laedership
Adalah suatu konsep yang merupakan perluasan dari kepemimpinan transformasional. Istilah caring leadership diperkenalkan pada tahun 1991 oleh Fortune 500 executive yang menyatakan “ manajemen yang baik sebagian besar adalah urusan cinta “.
Perbandingan Gaya Kepemimpinan
FAKTOR OTORITAS DEMOKRATIS LAISEZ - FAIRE
Derajat kebebasan
Derajat Kontrol
Pengambilan keputusan
Tingkat aktifitas pemimpin
Penanggungjawab
Hasil dari kelompok
Efisiensi Sedikit kebebasan
Kontrol tinggi
Oleh pemimpin
Tinggi
Terutama oleh pemimpin
Kuantitas tinggi, kualitas bagus
Sangat efisien
Kebebasan sedang
Kontrol sedang
Pemimpin dan kelompok bersama
Tinggi
Berbagi
Kreatif, kualitas tinggi
Kurang efisien dari pada otoriter Kebebasan lebih banyak
Tak ada control
Oleh kelompok / tidak oleh siapapun
Minimal
Tak ada yang bertanggungjawab
Variable, mungkin kualitas buruk
Tidak efisien
D.Karakteristik Pemimpin yang Efektif
1.Menggunakan gaya kepemimpinan yang lazim digunakan.
2.Menggunakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tugas dan anggota.
3.Mengkaji pengaruh perilaku mereka terhadap orang lain dan pengaruh perilaku orang lain terhadap diri mereka.
4.Sensitif terhadap dorongan yang mendukung dan menentang perubahan.
5.Mengekspresikan pandangan yang optimistic mengenal sifat.
6.Energetik
7.Terbuka dan mendorong keterbukaan, sehingga isu yang sesungguhnya dapat dihadapi.
8.Memfasilitasi hubungan personal
9.Merencanakan dan mengorganisasikan aktivitas kelompok.
10.Memiliki perilaku yang konsisten dengan anggota kelompok.
11.Mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk mengembangkan kemampuan anggota, bukan hanya untuk melaksanakan tugas.
12.Melibatkan anggota dalam semua keputusan.
13.Menghargai dan menggunakan kontribusi anggota kelompok
14.Mendorong kreatifitas
15.Mendorong umpan balik mengenai gaya kepemimpinan mereka.
E.Keefektifan Pemimpin
Keefektifan suatu perilaku pemimpin harus ditentukan berdasarkan 4 set variable. Likert ( 1976 ) mengidentifikasi variable penyebab, penghalang dan variable hasil.
Harsey dan Blanchard ( 1977 ) juga melihat pada tujuan – tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
Perilaku pemimpin harus merupakan suatu evaluasi ke empat set variable dalam rangka menurunkan efek lingkaran cahaya – tanduk. Variable – variable berikut digunakan untuk mengevaluasi keefektifan perilaku pemimpin dalam menyelesaikan masalah.
1.Variabel penyebab
Mempunyai pengaruh pada perkembangan –perkembangan dalam suatu organisasi termasuk hasil / pencapaian ( Hersey, Blanchard, 1977 ). Variable – variable ini dibawah pengendalian manajemen, mereka dapat diubah / duganti.
Variabel – variable penyebab adalah :
a.Ketepatan perilaku pemimpin terhadap tingkat kematangan system
b.Keakuratan diagnosa system
c.Pelibatan system yang tepat dalam pengambilan keputusan
d.Keefektifan filosofi dan tujuan organisasi
2.Variabel penghalang
Merujuk pada SDM suatu organisasi, Likert ( 1961 ) menyebutkan bahwa mereka mewakili situasi internal organisasi.
Variabel – variable penghalang adalah :
a.Komitmen
b.Motivasi
c.Moral dan keterampilan karyawan dalam kepemimpinan
d.Komunikasi dan penyelesaian konflik ( heresy, Blanchard, 1977 )
3.Variabel hasil
Menggambarkan pencapaian organisasi. Variabel – variable hasil dapat dihitung dan termasuk produksi ( hasil / pelayanan ), biaya – biaya,pendapatan, alih peran, hubungan serikat karyawan – manajemen dan sebagainya.
4.Tujuan jangka panjang dan pendek
Tujuan jangka panjang adalah perkembangan organisasi dimasa depan.
Suatu perspektif jangka pendek adalah hasil yang langsung ( Hersey, Blanchard, 1977 ). Seorang manajer yang efektif harus menyeimbangkan keduanya. Tujuan jangka panjang dan jangka pendek dapat dicapai apabila bawahan berfungsi secara efektif dalam berbagai tugas ketika pemimpin berada pada struktur rendah dan pertimbangan rendah.
5.Kepemimpinan keperawatan
Perawat dapat mengemban peransebagai pemimpin dalam lingkungan kerja mereka, profesi mereka dan komunitas mereka, meskipun mereka memiliki / tidak memeiliki posisi kepemimpinan yang ditetapkan.
Sebagai pemimpin di tempat kerja, mereka dapat membantu dalam perbaikan kualitas perawatan pasien.
Sebagai pemimpin di profesi, perawat tidak hanya dapat membatu perbaikan perawatan klien, tetapi juga perbaikan lingkungan kerja perawat dan professional kesehatan lain. Karena pengetahuan dan keterampilan khusus mereka, perawat juga dapat mengemban peran kepemimpinan di komunitas, membantu perubahan yang meningkatkan fifik, psikologis dan social dalam masyarakat sebagai suatu kesatuan.
Dalam cakupan yang lebih luas, para perawat harus mengaplikasikan keterampilan kepemimpinan sebagaimana mereka mengaplikasikan pengetahuan keperawtan pada masalah personal. Para perawat dapat mendemontrasikan ketrampilan kepemimpinan ini dengan terlibat dalam organisasi.
Pada tahun belakangan ini, perawat professional telah menunjukan cakupan ketrampilan kepemimpinan dan manajemen yang luas terhadap politisi dan legislator di semua tempat dalam upaya mereka untuk membela dan merencanakan system keperawtan kesehatan yang dapat digunakan oleh semua pendudukalam semesta melalui Nursing’s Agenda For Health Care Reform ( ANA, 1991 )
1.Kepemimpinan adalah sebuah focus dari proses – proses kelompok ( Cooley, 1902 )
2.Kepemimpinan adalah suatu bakat kepribadian juga dianggap menarik ( Bingham, 1927 )
3.Kepemimpinan merupakan bentuk ketaatan ( Alport, 1942 )
4.Kepemimpinan adalah suatu tumbuhan / perilaku ( Fiedler, 1967 )
5.pemimpin adalah alat untuk pencapaian ( Catell, 1951 )
B.Karakteristik Kepemimpinan
Hellriegel dan Slocum ( 1993 ) menekankan keterampilan kepemimpinan inti sebagai berikut :
1.Pemberdayan
Melalui pemberdayaan, pemimpin memberikan orang lain rasa pencapaian , kepemilikan dan harga diri. Satu cara pemimpin perawat dapat memberdayakan staf adalah mendiskusikan dengan mereka ide – ide tentang memberikan perawatan klien.
2.Intuisi
Intuisi meliputi memiliki rasa terhadap lingkungan dan kebutuhan serta keinginan yang dimiliki oleh orang lain.
Pemimpin keperawatan yang efektif meningkatkan intuisi mereka agar sesuai dengan kebutuhan klien dan staf.
3.Pemahaman Diri
Mencakup suatu kemampuan untuk menyadari kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Membangun kekuatan diri dan mengoreksi / memperbaiki kekurangan penting dilakukan agar kepemimpinan efektif.
4.Visi
Kepemimpinan visioner tidak berarti secara konsisten membayangkan tujuan baru dan orisinil.
Visi dapat semata – mata menyatukan caring dan efisiensi dalam memenuhi kebutuhan pegawai dan klien
5.Kongruensi Nilai
Adalah kemampuan untuk memahami dan menerima misi serta tujuan organisasi dan nilai pegawai serta untuk mendamaikannya.
Pemimpin yang efektif selalu menunjukan :
a.Pencapaian dan ambisi
b.Kemampuan untuk belajar dari kesalahan
c.Dedikasi tinggi terhadap pekerjaan
d.Analisis dan keterampilan memecahkan masalah yang baik
e.Tingkat keterampilan manusia yang tinggi
f.Inovasi tingkat tinggi
C.Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan didefinisikan sebagai kombinasi yang berbeda dari perilaku tugas dan hubungan yang digunakan untuk mempengaruhi orang lain untuk menyelesaikan tujuan. ( Huber, 2000 )
Beberapa gaya kepemimpinan antara lain :
1.Kepemimpinan Kharismatik
Dicirikan dengan suatu hubungan emosional antara pemimpin dan anggota kelompok yang pemimpinnya “ menginspirasi orang lain dengan mendapatkan komitmen emosional daripengikut dan dengan membangkitkan rasa setia dan antusiasme yang kuat “ . ( Marriner – Torney, 2000 )
2.Kepemimpinan Otoriter ( Direktif / Otokratif )
Pemimpin membuat keputusan untuk kelompok sehingga kelompok tidak mampu membuat keputusannya sendiri. Pemimpin menentukan kebijakan, memberikan perintah dan arahan kepada anggota kelompoknya.
3.Kepemimpinan Demokratis ( Partisipatif )
Pemimpin bertindak sebagai katalisator / fasilitator secara aktif memandu kelompok kearah pencapaian tujuan kelompok. Kepemimpinan demokratis dilandaskan pada prinsip sebagai berikut ( Tappen, 2001 ) :
a.Setiap anggota kelompok harus berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
b.Kebebasan keyakinan dan tindakan diperbolehkan dalam batasan yang masuk akal yang ditetapkan oleh masyarakat dan kelompok.
c.Tiap individu bertanggungjawab terhadap diri mereka sendiri dan kesejahteraan kelompok.
d.Harus ada perhatian dan pertimbangan untuk setiap anggota kelompok sebagai indibidu yang unik.
4.Kepemimpinan Laissez – Faire
Digambarkan sebagai pemimpin yang tidak aktif, pasif yang sedikit memberikan perintah, pertanyaan, anjuran / kritikan ( Tappen, 2001 ). Anggota kelompok dapat bertindak mandiri dan menderita akibat kurangnya kerja sama / koordinasi.
5.Kepemimpinan Situasional
Tingkat pengarahan dan dukungan bervariasi, bergantung pada tingkat kematangan pegawai / kelompok. Pemimpin menerapkan satu dari 4 gaya ( Hellriegel, Jackson dan Slocun )
a.Directive
Gaya kepemimpinannya dicirikan dengan pemberian intruksi yang jelas dan arahan spesifik untuk pegawai yang tidak matang.
b.Coaching
Gaya kepemimpinannya dicirikan dengan pengembangan komunikasi dua arah dan membantu pekerja yang menuju kematangan, membangun rasa percaya diri dan motivasi.
c.Supporting
Gaya kepemimpinannya dicirikan dengan komunikasi aktif dua arah dan mndukung upaya pekerja yang matang untuk menggunakan bakat mereka.
d.Delegating
Gaya kepemimpinan tanpa intervensi ( hands off ) ketika pegawai yang sudah sangat matang diberikan tanggungjawab untuk melaksanakan rencana dan membuat keputusan.
6.Kepemimpinan Transaksional
Menunjukan manajer tradisional yang berfokus pada tugas dari hari ke hari dalam mencapai tujuan organisasi. Pemimpinnya memahami dan memenuhi kebutuhan kelompok.
7.Kepemimpinan Transformasional
Mempertimbangkan kembali karakteristik manajer – pemimpin, menekankan kembali visi yang dibagi manajer pemimpin dengan kelompok dan menekankan pentingnya mempersiapkan orang untuk berubah ( Tappen, 2001 ) .
Ciri – cirri kepemimpinan transformasional :
a. Kharisma
Pemimpin kharismatik sangat dihargai dan dipandang dengan penuh rasa hormat, dedikasi dan kekaguman.
b. Motivasi Inspirasional
Pemimpin bernagi visi dengan staf yang menarik emosi dan cita – cita mereka.
c. Stimulasi Intelektual
Pemimpin menstimulasi pengikut untuk mempertanyakan status quo untuk mempertanyakan secara kritis mengenai apa yang mereka lakukan dan mengapa.
d. Contingent Reward
Pemimpin menyadari tujuan yang disepakati bersama dan memberikan penghargaan pada pencapaian pegawai.
6 faktor dalam kepemimpinan transformasional :
1) Menguasai perubahan
2) Berpikir system
3) Visi bersama
4) Perbaikan kualitas continue
5) Kemampuan untuk mendefinisikan
6) Komitmen untukmelayani public
8. Caring Laedership
Adalah suatu konsep yang merupakan perluasan dari kepemimpinan transformasional. Istilah caring leadership diperkenalkan pada tahun 1991 oleh Fortune 500 executive yang menyatakan “ manajemen yang baik sebagian besar adalah urusan cinta “.
Perbandingan Gaya Kepemimpinan
FAKTOR OTORITAS DEMOKRATIS LAISEZ - FAIRE
Derajat kebebasan
Derajat Kontrol
Pengambilan keputusan
Tingkat aktifitas pemimpin
Penanggungjawab
Hasil dari kelompok
Efisiensi Sedikit kebebasan
Kontrol tinggi
Oleh pemimpin
Tinggi
Terutama oleh pemimpin
Kuantitas tinggi, kualitas bagus
Sangat efisien
Kebebasan sedang
Kontrol sedang
Pemimpin dan kelompok bersama
Tinggi
Berbagi
Kreatif, kualitas tinggi
Kurang efisien dari pada otoriter Kebebasan lebih banyak
Tak ada control
Oleh kelompok / tidak oleh siapapun
Minimal
Tak ada yang bertanggungjawab
Variable, mungkin kualitas buruk
Tidak efisien
D.Karakteristik Pemimpin yang Efektif
1.Menggunakan gaya kepemimpinan yang lazim digunakan.
2.Menggunakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tugas dan anggota.
3.Mengkaji pengaruh perilaku mereka terhadap orang lain dan pengaruh perilaku orang lain terhadap diri mereka.
4.Sensitif terhadap dorongan yang mendukung dan menentang perubahan.
5.Mengekspresikan pandangan yang optimistic mengenal sifat.
6.Energetik
7.Terbuka dan mendorong keterbukaan, sehingga isu yang sesungguhnya dapat dihadapi.
8.Memfasilitasi hubungan personal
9.Merencanakan dan mengorganisasikan aktivitas kelompok.
10.Memiliki perilaku yang konsisten dengan anggota kelompok.
11.Mendelegasikan tugas dan tanggungjawab untuk mengembangkan kemampuan anggota, bukan hanya untuk melaksanakan tugas.
12.Melibatkan anggota dalam semua keputusan.
13.Menghargai dan menggunakan kontribusi anggota kelompok
14.Mendorong kreatifitas
15.Mendorong umpan balik mengenai gaya kepemimpinan mereka.
E.Keefektifan Pemimpin
Keefektifan suatu perilaku pemimpin harus ditentukan berdasarkan 4 set variable. Likert ( 1976 ) mengidentifikasi variable penyebab, penghalang dan variable hasil.
Harsey dan Blanchard ( 1977 ) juga melihat pada tujuan – tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
Perilaku pemimpin harus merupakan suatu evaluasi ke empat set variable dalam rangka menurunkan efek lingkaran cahaya – tanduk. Variable – variable berikut digunakan untuk mengevaluasi keefektifan perilaku pemimpin dalam menyelesaikan masalah.
1.Variabel penyebab
Mempunyai pengaruh pada perkembangan –perkembangan dalam suatu organisasi termasuk hasil / pencapaian ( Hersey, Blanchard, 1977 ). Variable – variable ini dibawah pengendalian manajemen, mereka dapat diubah / duganti.
Variabel – variable penyebab adalah :
a.Ketepatan perilaku pemimpin terhadap tingkat kematangan system
b.Keakuratan diagnosa system
c.Pelibatan system yang tepat dalam pengambilan keputusan
d.Keefektifan filosofi dan tujuan organisasi
2.Variabel penghalang
Merujuk pada SDM suatu organisasi, Likert ( 1961 ) menyebutkan bahwa mereka mewakili situasi internal organisasi.
Variabel – variable penghalang adalah :
a.Komitmen
b.Motivasi
c.Moral dan keterampilan karyawan dalam kepemimpinan
d.Komunikasi dan penyelesaian konflik ( heresy, Blanchard, 1977 )
3.Variabel hasil
Menggambarkan pencapaian organisasi. Variabel – variable hasil dapat dihitung dan termasuk produksi ( hasil / pelayanan ), biaya – biaya,pendapatan, alih peran, hubungan serikat karyawan – manajemen dan sebagainya.
4.Tujuan jangka panjang dan pendek
Tujuan jangka panjang adalah perkembangan organisasi dimasa depan.
Suatu perspektif jangka pendek adalah hasil yang langsung ( Hersey, Blanchard, 1977 ). Seorang manajer yang efektif harus menyeimbangkan keduanya. Tujuan jangka panjang dan jangka pendek dapat dicapai apabila bawahan berfungsi secara efektif dalam berbagai tugas ketika pemimpin berada pada struktur rendah dan pertimbangan rendah.
5.Kepemimpinan keperawatan
Perawat dapat mengemban peransebagai pemimpin dalam lingkungan kerja mereka, profesi mereka dan komunitas mereka, meskipun mereka memiliki / tidak memeiliki posisi kepemimpinan yang ditetapkan.
Sebagai pemimpin di tempat kerja, mereka dapat membantu dalam perbaikan kualitas perawatan pasien.
Sebagai pemimpin di profesi, perawat tidak hanya dapat membatu perbaikan perawatan klien, tetapi juga perbaikan lingkungan kerja perawat dan professional kesehatan lain. Karena pengetahuan dan keterampilan khusus mereka, perawat juga dapat mengemban peran kepemimpinan di komunitas, membantu perubahan yang meningkatkan fifik, psikologis dan social dalam masyarakat sebagai suatu kesatuan.
Dalam cakupan yang lebih luas, para perawat harus mengaplikasikan keterampilan kepemimpinan sebagaimana mereka mengaplikasikan pengetahuan keperawtan pada masalah personal. Para perawat dapat mendemontrasikan ketrampilan kepemimpinan ini dengan terlibat dalam organisasi.
Pada tahun belakangan ini, perawat professional telah menunjukan cakupan ketrampilan kepemimpinan dan manajemen yang luas terhadap politisi dan legislator di semua tempat dalam upaya mereka untuk membela dan merencanakan system keperawtan kesehatan yang dapat digunakan oleh semua pendudukalam semesta melalui Nursing’s Agenda For Health Care Reform ( ANA, 1991 )
GUIDELINES FOR WRITING DISHCARGE SUMMARIES USING CHARTING BY EXCEPTION
1. GUIDELINES FOR WRITING DISHCARGE SUMMARIES USING CHARTING BY EXCEPTION
1. If at the time of discharge the nursing diagnosis is still active and the expected outcome is not met, or if the patient / signification orther require further assistance for care managemenet, s discharge summary is written. Example of this situations include chronic disease state, health care needs that require family or community assistance, or anticipated noncompliance with care management after discharge.
2. Discharge summaries are formulated up to 48 hours prior to patient discharge. A discharge summary with the date and the RN’s signature is first noted on the Nursering Diagnoses List. Next, it is documented as the “ Discharge Summary “ in the SOAP format on the Nurses”s Note. The following information needs to be included :
S : Summary of patient’s interpretation of health care management as it relates
to this nursing diagnosis;
O : Summary of patient’s progress during hospitalization and the current status
of the patient in relation to the nursing diagnosis.
A : Statement of the patient’s actual curren status compared to anticipation
achievement of expected outcomes ( goals );
P : Follow up plan of care through a referral or a program for self-care
management.
Uses
Nurses in acute and long-term care setting will paint this system very useful when the standards of care have been carefully defined for specific patient populations. CBE, used correctly, can be instrumental in promoting more efficient use of nursing time.
Advantages of Charting by Exception
1. Sets minimum standards for assessment and care
2. Abnormal trends are obvious
3. Abnormal data are highlighted and easily retrieved
4. Normal data or expected responses do not obscure other information
5. Charting time is reduced because the documentation of routine care and normal observations is greatly reduced
6. Transcription and duplication of charting is virtually eliminated.
7. Patient data can be recorded on the patien’s chart immediately
8. The most recent information about the patient can be left at the bedside
9. Fewer pages are needed for nursing documentation
10. The nursing can plan may be kept as a permanent record
Disadvantages of Charting by Exception
1. Concerns may arise about CBE as a timely record of useful, relevant information
2. Narative notes may be excsessivelly brief. Too much reliance may be placed upon using the checklists.
3. The potential exists for blank record or absence of charting for long intervals of time
4. Routine care may be intentionally omitted. Measured standars can be misunderstood and may obscure the need for care planning and care delivery.
5. Records of nursing judgment and evaluations may be “lost” for future analysis.
6. Isolated or unexpected events may not be fully documented
7. Does not accommodate intregated or multidisciplinary charing
8. Documentation of the nursing process may not always be evident
9. If care standards are not developed for new or evolving disese conditions problems may ensue.
2. GUIDELINES FOR USING CHARTING BY EXCEPTION ( CBE )
1. A data base is recorded for each patient and kept as part of the permanent record. A comprehensive baseline physical assessment that includes healt history and health care patterns is completed within 24 hours of admission.
2. A nursing diagnosis list is formulated and written at the time of admission. Thereafter, it serves as a “ table of content “ for all nursing diagnoses.
3. A discharge summary is written for each active nursing diagnosis at time of discharge.
4. The SOAP ( IER ) construct is used to document the patient’s response to interventions ( direction of nursing care ) throught the patien’s stay.
5. A nursing-diagnosis-based care plan is developed.
6. Specially designed protocols guide nursing interventions. A list of standardized nursing interventions has been developed to facilitate the expected clinical outcomes of specific patient populations.
7. Incidental order sheets are used to enter nursing interventions. For example, “ irrigate nasogastric tube q.2-3 hr with normal saline to maintain patency”.
8. A Kardex and care plan are developed for each patient.
9. Some computerized documentation system may generate alternative modalities.
3. CHARTING BY EXCEPTION AND THE NURSING PROCESS
A combination of steps are used to formalize the documentation of the nursing process. All components of the nursing process are used in this documentations system. Figure 96 illustrates how the steps of the process are interwoven into a properly completed record.
F. CORE Documentation System with DAE Construct
In 1985, CORE documentation was developed at St. Joseph’s Hospital in Hamilton, Ontario, Canada. It was implemented in 1986 by nurses who wanted to improve both the existing documentation system and the documentation of nursing practice.
Figure 96 The steps in the nursing process and parallel elements of care planning and documentation. ( From Buke, L and Murphy,J; The steps in the nursing process and parallel elements of care planning and documentation. Charting by Exception. John Wiley & Sons, New York. 1998)
Thus, “ CORE” refers to the central or most important part the documentation system-the nursing process. The major component of this process-charting system include the data base , care, flow sheets, progress notes, and discharge summaries :
1. An admission assessment of the patient’s functional competence is completed by a registered nurse wthin 8 hours of admission. This assessment includes a system review and a review of the activities of daily living. Emphasis is placed on completion of a written summary directed toward nursing diagnosis and patient problems. The completed nursing data base and the care plan are placed in a Kardex ( see Figs:9.7 and 9.8)
2. Nursing care plans serve a twofold purpose. Part One (Fig 9.7) remains part of the permanent record. Part Two ( Fig 9.8) is used as a work sheet and incorporates the information from the flow sheets.
3. Flow sheets provide information about the patient’s activities of daily living and response to nursing care and about treatments and nursing activities, diagnostic procedures, and patient education. The parameters on the flow sheets correspond to the patient classification system. Examples of the flow sheets are shown in Figures 9.9 and 9.10
4. Progress notes and are organized in a three-column format ( modeled after the FOCUS charting format ). The DAE acronym stands for Data, Action, Evaluation ( Response ) and provifes a guideline with which to organize content in the progress note column ( Fig 9.11)
5. The discharge summary includes information about nursing diagnosis, patient education, and requirements for follow-up care.
Uses
This system can be used both in acute care facilities and in long-term care setting.
ST. JOSEPH’S HOSPITAL, HAMILTON. ONTARIO
DEPARTEMENT OF NURSING
GOAL(S) OF CARE
PATIENT CARE PLAN-1 DATE Nurses’s initials NURSING DIAGNOSES EXPECTED OUTCOMES Dead Line Chart NURSING INTREVENTIONS Date Nurses’s initials
Figure 9.7 Patient care plan-1 ( Courtesy of St. Joseph’s Hospital, Hamilton, Ontario )
PATIENT CARE PLAN-1 DATE Nurses’s initials NURSING DIAGNOSES EXPECTED OUTCOMES Dead Line Chart NURSING INTREVENTIONS Date Nurses’s initials
SAFETY NEEDS
PSYCHOSOCIAL NEEDS
SPIRITUAL/CULTURAL NEEDS
PATIENT TEACHING PLAN : DISCHARGE PLANNING Expected Discharge Date :
HOME SITUATION :
DISCHARGE RESOURCES INVOLVED :
Public Health
Home Care
Social Work
Piscement
Other
NURSE’S SIGNATUR Initials NURSE’S SIGNATUR Initials NURSE’S SIGNATUR Initials NURSE’S SIGNATUR Initials
Figure 9.7 Patient care plan-1 ( Courtesy of St. Joseph’s Hospital, Hamilton, Ontario )
ID BAND CHECKED ADMITED FROM : □ ER □ ICU □ HOME □ OTHER ____________ VIA______ ACCOMPANIED BY _____
VITAL SIGN T________P_______R_______BP/ST/SIR_______________Ly_______WEIGHT ________Kg HEIGHT ________Cm
1. If at the time of discharge the nursing diagnosis is still active and the expected outcome is not met, or if the patient / signification orther require further assistance for care managemenet, s discharge summary is written. Example of this situations include chronic disease state, health care needs that require family or community assistance, or anticipated noncompliance with care management after discharge.
2. Discharge summaries are formulated up to 48 hours prior to patient discharge. A discharge summary with the date and the RN’s signature is first noted on the Nursering Diagnoses List. Next, it is documented as the “ Discharge Summary “ in the SOAP format on the Nurses”s Note. The following information needs to be included :
S : Summary of patient’s interpretation of health care management as it relates
to this nursing diagnosis;
O : Summary of patient’s progress during hospitalization and the current status
of the patient in relation to the nursing diagnosis.
A : Statement of the patient’s actual curren status compared to anticipation
achievement of expected outcomes ( goals );
P : Follow up plan of care through a referral or a program for self-care
management.
Uses
Nurses in acute and long-term care setting will paint this system very useful when the standards of care have been carefully defined for specific patient populations. CBE, used correctly, can be instrumental in promoting more efficient use of nursing time.
Advantages of Charting by Exception
1. Sets minimum standards for assessment and care
2. Abnormal trends are obvious
3. Abnormal data are highlighted and easily retrieved
4. Normal data or expected responses do not obscure other information
5. Charting time is reduced because the documentation of routine care and normal observations is greatly reduced
6. Transcription and duplication of charting is virtually eliminated.
7. Patient data can be recorded on the patien’s chart immediately
8. The most recent information about the patient can be left at the bedside
9. Fewer pages are needed for nursing documentation
10. The nursing can plan may be kept as a permanent record
Disadvantages of Charting by Exception
1. Concerns may arise about CBE as a timely record of useful, relevant information
2. Narative notes may be excsessivelly brief. Too much reliance may be placed upon using the checklists.
3. The potential exists for blank record or absence of charting for long intervals of time
4. Routine care may be intentionally omitted. Measured standars can be misunderstood and may obscure the need for care planning and care delivery.
5. Records of nursing judgment and evaluations may be “lost” for future analysis.
6. Isolated or unexpected events may not be fully documented
7. Does not accommodate intregated or multidisciplinary charing
8. Documentation of the nursing process may not always be evident
9. If care standards are not developed for new or evolving disese conditions problems may ensue.
2. GUIDELINES FOR USING CHARTING BY EXCEPTION ( CBE )
1. A data base is recorded for each patient and kept as part of the permanent record. A comprehensive baseline physical assessment that includes healt history and health care patterns is completed within 24 hours of admission.
2. A nursing diagnosis list is formulated and written at the time of admission. Thereafter, it serves as a “ table of content “ for all nursing diagnoses.
3. A discharge summary is written for each active nursing diagnosis at time of discharge.
4. The SOAP ( IER ) construct is used to document the patient’s response to interventions ( direction of nursing care ) throught the patien’s stay.
5. A nursing-diagnosis-based care plan is developed.
6. Specially designed protocols guide nursing interventions. A list of standardized nursing interventions has been developed to facilitate the expected clinical outcomes of specific patient populations.
7. Incidental order sheets are used to enter nursing interventions. For example, “ irrigate nasogastric tube q.2-3 hr with normal saline to maintain patency”.
8. A Kardex and care plan are developed for each patient.
9. Some computerized documentation system may generate alternative modalities.
3. CHARTING BY EXCEPTION AND THE NURSING PROCESS
A combination of steps are used to formalize the documentation of the nursing process. All components of the nursing process are used in this documentations system. Figure 96 illustrates how the steps of the process are interwoven into a properly completed record.
F. CORE Documentation System with DAE Construct
In 1985, CORE documentation was developed at St. Joseph’s Hospital in Hamilton, Ontario, Canada. It was implemented in 1986 by nurses who wanted to improve both the existing documentation system and the documentation of nursing practice.
Figure 96 The steps in the nursing process and parallel elements of care planning and documentation. ( From Buke, L and Murphy,J; The steps in the nursing process and parallel elements of care planning and documentation. Charting by Exception. John Wiley & Sons, New York. 1998)
Thus, “ CORE” refers to the central or most important part the documentation system-the nursing process. The major component of this process-charting system include the data base , care, flow sheets, progress notes, and discharge summaries :
1. An admission assessment of the patient’s functional competence is completed by a registered nurse wthin 8 hours of admission. This assessment includes a system review and a review of the activities of daily living. Emphasis is placed on completion of a written summary directed toward nursing diagnosis and patient problems. The completed nursing data base and the care plan are placed in a Kardex ( see Figs:9.7 and 9.8)
2. Nursing care plans serve a twofold purpose. Part One (Fig 9.7) remains part of the permanent record. Part Two ( Fig 9.8) is used as a work sheet and incorporates the information from the flow sheets.
3. Flow sheets provide information about the patient’s activities of daily living and response to nursing care and about treatments and nursing activities, diagnostic procedures, and patient education. The parameters on the flow sheets correspond to the patient classification system. Examples of the flow sheets are shown in Figures 9.9 and 9.10
4. Progress notes and are organized in a three-column format ( modeled after the FOCUS charting format ). The DAE acronym stands for Data, Action, Evaluation ( Response ) and provifes a guideline with which to organize content in the progress note column ( Fig 9.11)
5. The discharge summary includes information about nursing diagnosis, patient education, and requirements for follow-up care.
Uses
This system can be used both in acute care facilities and in long-term care setting.
ST. JOSEPH’S HOSPITAL, HAMILTON. ONTARIO
DEPARTEMENT OF NURSING
GOAL(S) OF CARE
PATIENT CARE PLAN-1 DATE Nurses’s initials NURSING DIAGNOSES EXPECTED OUTCOMES Dead Line Chart NURSING INTREVENTIONS Date Nurses’s initials
Figure 9.7 Patient care plan-1 ( Courtesy of St. Joseph’s Hospital, Hamilton, Ontario )
PATIENT CARE PLAN-1 DATE Nurses’s initials NURSING DIAGNOSES EXPECTED OUTCOMES Dead Line Chart NURSING INTREVENTIONS Date Nurses’s initials
SAFETY NEEDS
PSYCHOSOCIAL NEEDS
SPIRITUAL/CULTURAL NEEDS
PATIENT TEACHING PLAN : DISCHARGE PLANNING Expected Discharge Date :
HOME SITUATION :
DISCHARGE RESOURCES INVOLVED :
Public Health
Home Care
Social Work
Piscement
Other
NURSE’S SIGNATUR Initials NURSE’S SIGNATUR Initials NURSE’S SIGNATUR Initials NURSE’S SIGNATUR Initials
Figure 9.7 Patient care plan-1 ( Courtesy of St. Joseph’s Hospital, Hamilton, Ontario )
ID BAND CHECKED ADMITED FROM : □ ER □ ICU □ HOME □ OTHER ____________ VIA______ ACCOMPANIED BY _____
VITAL SIGN T________P_______R_______BP/ST/SIR_______________Ly_______WEIGHT ________Kg HEIGHT ________Cm
Langganan:
Postingan (Atom)